Laman

Senin, 18 Februari 2013

PAUS JOHANES PAULUS II





PAUS YOHANES PAULUS II,
Sang Burung Kelana
(1920 – 2005)
Hidup di dunia ini, hanyalah merupakan suatu anugerah dan kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada setiap orang. Kematian bukanlah merupakan akhir dari hidup ini. Akan tetapi, kematian itu merupakan awal dari hidup baru yang kekal. Setiap orang mempunyai waktunya sendiri. Tak ada manusia yang dapat luput dari kematian, sekalipun ia orang suci. Untuk itu, agar dapat mencapai suatu kehidupan yang abadi di Surga, kita harus menjalankan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Tak semua orang telah menjalankan tugasnya di dunia ini dengan semestinya. Akan tetapi, masih ada juga sosok yang dapat menjalankan semua itu dengan baik. Ialah, Paus Yohanes Paulus II, Agung. Dengan semangat Totus Tuus-nya, ia dapat menghantar orang ke jalan yang benar. Banyak sekali usaha yang telah dilakukannya semasa hidupnya.

Masa Kecil dan Keluarga
Karol Jozef Woojtyla lahir di Wadowice, sebuah kota kecil yang terletak sekitar lima puluh kilometer dari Krakow, Polandia, pada tanggal 18 Mei 1920. Ia lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya, Karol Wojtyla, adalah seorang prajurit berpangkat rendah di angkatan bersejata. Sedangkan ibunya, Emilia Kaczorowska, hanyalah seorang ibu rumah tangga. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya, Edmund Wojtyla, adalah seorang dokter.
Keluarganya hidup di masa perang dunia pertama. Kehidupan keluarga pun ikut terancam. Ibunya adalah seorang penderita penyakit jantung, ketika ia mengandung bayinya yang kedua. Menurut banyak orang usianya tidak aman lagi untuk mengandung dan melahirkan anak lagi, apalagi dengan penyakit jantungnya. Akan tetapi karena cintanya kepada anak yang dikandungnya, ia rela menanggung resiko, dan kemudian ia memilih mengandung dan melahirkan bayinya. Maka lahirnya putera kedua mereka dan diberi nama Karol, sesuai dengan nama dari suaminya. Ketika Karol masih berumur 9 tahun, ibunya meninggal dunia. Pada tahun 1932, kakak laki-lakinya meninggal dunia. Karena hidup dalam suasana perang, ayahnya yang merupakan seorang prajurit harus menanggung resiko bertempur di medan perang. Pada tahun 1941, ayahnya meninggal dunia.
Karol Jozef Wojtyla menerima Komuni Kudus pertamanya saat berusia 9 tahun dan Sakramen Krisma saat berusia 18 tahun. Masa kecilnya terpengaruh kontak intensif dengan komunitas Yahudi di Krakow, yang kala itu berkembang dan pengalaman buruk pendudukan Nazi. Setelah menamatkan sekolah menengah atas di Marcin Wadowita, Wadowice, pada tahun 1938, ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Jagielloian University, Krakow, dan mengambil jurusan drama. Pada masa ini, ia adalah seorang olahragawan, pemain sepak bola, pemain sandiwara, penulis sandiwara, dan menguasai bermacam-macam bahasa.
Akibat adanya pendudukan Nazi, Universitas, tempat ia menimbah ilmu, terpaksa ditutup, pada tahun 1939. Akhirnya, ia memutuskan untuk bekerja di sebuah tambang, sebagai seorang budak kasar. Ia bekerja di sana dari tahun 1940 – 1944 untuk dapat bertahan hidup dan untuk menghindari deportasi ke Jerman.

Panggilan Imamat dan Studi
Karol yang sedang bekerja untuk mencari nafkah, pada tahun 1942, merasa terpanggil untuk menjadi pelayan Tuhan. Ia, yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang sastra, drama, olah raga, di tengah-tengah keganasan perang, mulai merasakan panggilan Tuhan. Ia pun mengikuti pembinaan calon imam di sebuah Seminari Tinggi yang dijalankan oleh Kardinal Adam Stefan Sapieha, Uskup Agung Krakow, secara sembunyi-sembunyi. Pada tahun itu juga, ia menjadi salah satu pendiri “Rhapsodic Theatre”, juga secara sembunyi-sembunyi.
Setelah perang berakhir tahun 1944, ia melanjutkan studinya di Seminari Tinggi Krakow, begitu seminari tersebut dibuka kembali, dan di fakultas teologi Jagiellonian University. Pada tanggal 1 November, ia ditahbiskan menjadi seorang imam.
Setelah ia ditahbiskan, ia dikirim oleh Kardinal Sapieha ke Roma. Di sana melanjutkan studinya di Universitas Angelicum Roma, di bawah asuhan seorang teolog kenamaan, Garrigou-Lagrange, seorang imam Ordo Dominikan dari Prancis. Pada tahun 1948, ia menyelesaikan studi dotoralnya di bidang teologi dengan sebuah tesis yang mengangkat tema iman dalam kesaksian Santo Yohanes Rasul. Pada saat itu, di masa-masa liburan, ia menjalankan pelayanan imamatnya di tengah-tengah imigran Polandia yang datang dari Perancis, Belgia, dan Belanda.
Setelah sekian lama belajar di Roma, akhirnya ia memperoleh gelar Doctor di Universitas Angelicum. Kemudian ia pulang ke Polandia menjadi pastor paroki dan sekaligus belajar lagi di Universitas Katolik Lublin. Di sana ia mengambil kuliah di bidang filsafat dan teologi. Ia juga memberikan pelayanan iman kepada para mahasiswa. Selanjutnya ia menjadi pengajar mata kuliah teologi moral dan etika sosial di seminari tinggi Krakow dan di Fakultas Teologi Lublin.

Uskup – Kardinal
Pada tanggal 4 Juli 1958, Karol Wojtyla diangkat menjadi uskup pembantu Krakow oleh Paus Pius XII, dan dikukuhkan pada tanggal 28 September 1958 di Katedral Wawel, Krakow, oleh Uskup Agung Baziak. Empat tahun kemudian, ia diangkat menjadi uskup dengan gelar Vicar Capitular. Pada tahun 1960, ia menerbitkan bukunya yang terkenal: Cinta dan Tanggung Jawa.
Atas tulisannya ini, Paus Paulus VI menaruh kekaguman dan hormat atas cara Uskup Wojtyla dalam membela ajaran-ajaran tradisional gereja Katolik mengenai perkawinan. Pada tanggal 13 Januari 1964, Paus Paulus VI mengangkatnya menajadi Uskup Agung Krakow. Dalam jabatannya sebagai Uskup Agung Krakow, Mgr. Wojtyla juga terlibat dalam Konsili Vatikan II dan mengambil bagian banyak dalam penyusunan materi Gaudium et Spes (pernyataan tentang Kebebasan Beragama) dan Dignitatis Humanae (Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern). Dua hasil utama konsili ini ditilik dari sudut pandang historis dan pengaruhnya.
Tanggal 26 Juni 1967, Paus Paulus VI kemudian mengangkatnya sebagai kardinal. Selain ikut terlibat dalam Konsili Vatikan II, termasuk memberikan kontribusi penting pada penyusunan KonstitusiGaudium et Spes dan Dignitatis Humanae, Kardinal Wojtyla juga turut terlibat dalam semua majelis yang ada di Sinode Uskup Agung.
Setelah wafat dari Paus Paulus VI, Kardinal Wojtyla menghadiri konklaf pemilihan paus. Ia memilih Kardinal Albino Luciani, sebagai Paus Yohanes Paulus I.

Pengganti Petrus
Hanya 33 hari saja jabatan kepausan dijabat oleh Albino Luciano, sebagai Paus Yohanes Paulus I, diadakan kembali konklaf pemilihan paus yang kedua. Hal ini disebabkan karena Paus Yohanes Paulus I meninggal dunia.
Pada konklaf yang kedua ini ada dua kubu yang sama-sama memiliki calon kuat: Kardinal Giuseppe Siri, Uskup Agung Genoa, dan Kardinal Giovanni Benelli, Uskup Agung Firenze (Florence) dan seorang teman dekat Paus Yohanes Paulus I. pada putaran-putaran pemungutan suara pertama, Benelli memenangkan sembilan pengambilan suara. Namun akhirnya Wojtyla yang menang sebagai calon kompromi, antara lain berkat dukungan Kardinal Franz Konig dan yang lain-lain yang sebelumnya mendukung Siri.
Pada 16 Oktober 1978, pukul 17.15 waktu Roma, Kardinal Wojtyla dipilih oleh 103 dari 109 kardinal untuk jabatan Paus, sebagai Paus yang ke 264 atau pengganti Petrus yang ke 263. Ia memilih nama yang didasarkan pada ke tiga pendahulunya yakni, Yonanes Paulus II, sekaligus meneruskan karya dari Paus Yohanes Paulus I, yang hanya sempat bertahan selama 33 hari.
Pada pengumuman terpilihnya seorang paus non-Italia dalam kurun waktu 455 tahun, banyak yang menyebutnya sebagai “Sang Pria Dari Negara yang Jauh.” Melihat usia, kewarganegaraan, dan kondisi kesehatan mantan olahragawan dan penulis scenario sandiwara ini, Karol memecahkan semua rekor Paus. Kelak Karol menjadi pemimpin dalam perjalannya dan menurut beberapa orang bahkan melampaui kemampuan intelektual Paus Pius XII dan charisma Paus Yohanes XXIII.
Seperti pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II secara sengaja menyederhanakan jabatannya dan menjadikannya sebuah pranata yang tidak terlalu bersifat kerajaan. Pada pelantikannya, ia memilih untuk melakukan upacara yang sederhana, dan bukanlah sebuah Koronisasi Paus besar-besaran. Kemudian Tiara Paus juga tidak pernah dipakai selama menjabat. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi gelar Servus Servorum Dei.

Percobaan-Percobaan Pembunuhan

Tanggal 13 Mei 1981, Yohanes Paulus II hamper tewas ketika ditembak oleh Mehmet Ali Agca, seorang estremis Turki, kala masuk Lapangan Santo Petrus untuk bertemu umat. Dengan peristiwa ini, Agca akhirnya dihukum penjara seumur hidup.
Motif pembunuhan masih diperdebatkan. Salah satu kemungkinan ialah bahwa rezim komunis Uni Soviet takut akan pengaruh Paus Polandia ini akan stabilitas Negara-negara satelit Soviet di Eropa Timur, terutama di Polandia sendiri.
Banyak spekulasi yang muncul dari berbagai kalangan. Misalnya, tuduhan orang-orang dalam Vatikan yang memberi perintah, terutama faksi kaum Freemason yang menentang Karol Wojtyla. Selain itu juga, kelompok Opus Dei, yang salah satu pemimpinnya adalah Kardinal Casaroli dituduh melakukan percobaan pembunuhan ini.
Dua hari setelah Natal, pada 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhannya di penjara. Keduanya bercakap-cakap dan berbincang-bincang beberapa lama. Setelah pertemuan ini, paus mengatakan bahwa apa saja yang mereka bicarakan meruapakan rahasia antara paus dan Agca. Paus menganggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya.
Sebuah percobaan pembunuhan lainnya terjadi pada tanggal 12 Mei 1982, di Fatima, Portugal. Di sana, seorang pria berusaha menikam Paus dengan sebilah bayonet, tetapi dicegah oleh para penjaga. Si pelaku adalah seorang pastor ultrakonservatif, berhaluan keras. Ia adalah seorang warganegara Spanyol, bernama Juan Maria Fernandezy Krohn. Ia menentang reformasi Konsili Vatikan II dan memanggil paus seorang “agen dari Moskwa.” Ia kemudian divonis hukuman penjara enam tahun.
Percobaan pembunuhan yang ketiga kalinya terjadi Manila, pada bulan January 1995. Ini merupakan bagian dari Operasi Bojinka, sebuah serangan terorisme masal yang dikembangkan oleh anggota kaum ekstremis, Ramzi Yousef dan Khalid Sheik Mohammad.
Seorang pelaku bom bunuh diri yang menyamar sebagai seorang pastor direncanakan mendekati parade paus dan meledakkan diri. Namun sebelum tanggal 15 January 1995, hari mereka akan melaksanakan rencana terror mereka, sebuah kebakaran dalam sebuah apartemen membawa para penyidik yang dipimpin oleh Aida Fariscal ke computer laptop Ramzi Yousef yang berisikan rencana-rencana terror mereka. Akhirnya Yousef dicekal di Pakistan kurang lebih sebulan kemudian, tetapi Khalid Sheik Mohmammed baru dicekali pada tahun 2003.

Menghadap ke Hadirat Allah

Pada 2 April 2005, sekitar 10.000 orang berkumpul di depan Basilika Santo Petrus, Vatikan, diiringi dengan keheningan dan tepuk tangan panjang menandakan berakhirnya 9.665 hari masa penggembalaan Paus Yohanes Paulus II. Tepat pukul 22.37 waktu Italia, Wakil Sekretaris Negara Vatikan, Uskup Agung Leonardo Sandri mengumumkan secara resmi bahwa Paus Yohanes Paulus II telah kembali ke pangkuan Allah Bapa.
Setelah pengumuman dari Uskup Agung Leonardo Sandri, Kardinal Angelo Sodano memimpin doa De Profundis, yaitu doa Gereja untuk menghantar jiwa orang yang wafat. Kemudian dilanjutkan Reguiem,doa bagi arwah. Esoknya, Minggu Belas Kasih Allah, diselenggarakan Perayaan Ekaristi untuk mengenang Paus Yohanes Paulus II, yang dipimpin oleh Kardinal Angelo Sodano.
Kumpulan massa yang bersatu di lapangan Basilika St. Petrus terus mendaraskan doa rosario dengan suara lirih, pun serak. Wajah-wajah menunduk duka, derail air mata membasahi wajah. Nyala lilin-lilin kecil dijajarkan membentuk salib, rangkaian bunga-bunga dipasang di bawah lampu lampion yang tersebar di empat penjuru. Mereka berdoa di hadapan poster dan foto Bapa Suci dalam hiasan mawar putih-merah dan lilin. Seakan mereka merasakan dirinya menjadi yatim-piatu.
Pemakaman Paus Yohanes Paulus II menjadi pelayatan terbesar dalam sejarah masa Kristen sejak Perang Salib, menarik kunjungan lebih dari 4 juta pengunjung ke Vatikan ditambah dengan lebih dari 3,7 juga penduduk yang menetap di Roma. Hanya 2 juta orang yang diijinkan untuk melihat jenazah beliau. Bahkan menurut berita yang beredar, Mehmet Ali Agca, si penembak jitu yang mencoba menembak Paus Yohanes Paulus II, ingin datang ke pemakaman Sri Paus dengan menggunakan haknya untuk keluar penjara selama 72 jama. Akan tetapi, keinginannya tersebut tidak diluluskan oleh Pemerintah Turki, namun keluarganya, Adnan Agca, dapat menghadiri pemakaman tersebut untuk mewakili Mehmet Ali Agca.
Kematian Paus Yohanes Paulus II diiringi oleh ritual berusia berabad-abad lamanya dan tradisi yang berawal sejak masa pertengahan. Upacara pengunjungan berlangsung dari 4 April hingga pagi hari tanggal 8 April di Basilika Santo Petrus. Pada 8 April, pukul 8.00 pagi waktu Roma, Misa Requiem diberikan oleh Kardinal Joseph Ratzinger sebagai Pejabat Tinggi Dewan Kardinal. Paus Yohanes Paulus II dikebumikan di gua-gua di bawah basilica, Makam Para Paus. Dia diletakkan di bekas makam Paus Yohanes XXIII, yang dipindahkan Yohanes Paulus II untuk diberkati.
Bagi sebagian orang, beliau telah tiada, tetapi serentak ia masih ada. Sehari sesudah pemakaman segerombolan kaum muda duduk di piazza St. Petrus, memandang jendela kosong, apartement Sri Paus, dengan mata kosong sambil menggenggam rosario dan bernyanyi. Kematian pun takkan mampu memisahkan cinta seorang anak dan bapa terkasih.

Kronologi Perjuangan Paus
Kondisi kesehatan Paus Yohanes Paulus II mulai menurun sejak awal Februari 2005. Berikut tahap-tahap penuruannya secara kronologis.
1 February Dilarikan ke Poliklinik Gemelli, Roma pada malam hari akibat gangguan akut pada tenggorokan.
6 February : Muncul di jendela lantai kesepuluh Poliklinik tempatnya dirawat dalam Doa Angelus yang biasa dilaksanakan di Pelataran Basilika Santo Petrus setiap hari Minggu.
10 February : Kesehatannya membaik sehingga diperkanankan kembali ke apartemenya di Vatikan dengan mobil kepausan.
24 February Kembali dirawat di Poliklinik Gemelli, pada kamar yang sama dan menerima operasi kecil di sekitar tenggorakan guna membantu pernafasannya.
27 February Setelah Doa Angelus, nampak muncul di jendela kamarnya dirawat, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tetapi gerakan tenggorakannya mengisyaratkan seolah-olah ingin meminta maaf.
1 Maret : Merayakan ekaristi dan melakukan pembicaraan empat mata dengan Kardinal Joseph Ratzinger.
6 Maret Muncul dari jendela kamar poliklinik dalam Doa Angelus, tanpa mengeluarkan suara apa pun.
13 Maret : Memberikan salam dengan suaranya dalam Doa Angelus. Berterima kasih atas perhatian Media Massa dan kembali ke apartemennya di Vatikan.
20 Maret : Minggu Palma, Paus muncul di jendela kamarnya, tetapi tak sanggup berbicara. Melakukan berkat. Setelah itu, nampak memukulkan tangannya ke pinggiran jendela.
25 Maret : Jumat Agung. Untuk pertama kalinya dalam karya penggembalaannya sebagai pengganti Petrus, tak bisa ikut serta secara langsung dalam ibadat Jalan Salib di Colloseum, Roma.
27 Maret : Minggu Paska. Muncul di jendela apartemennya guna memberikan berkat “Ubi et Orbi”, tetapi tak sanggup mengeluarkan suara.
30 Maret Demi lancarnya proses pamasukan makanan ke dalam tubuhnya, dipasang pipa pembantu.
31 Maret Diserang komplikasi demam tinggi, infeksi pada saluran urine, dan tekanan darah sehingga harus berada di bawah pengaruh antibiotic.
1 April : Mulai tak sadarkan diri.
2 April : Pukul 21.37 menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Karya-Karya
Sebelum beliau terpilih menjadi paus, beliau sudah ikut ambil bagian dalam penyusunan Konsili Vatikan II, termasuk memberikan kontribusi penting pada penyusunan Konstitusi Gaudium et Spesdan Dignitatis Humanae. Selain itu pula, beliau semasa masih kardinal ikut terlibat dalam semua majelis yang ada di Sinode Uskup.
Semasa kepausannya, beliau telah mengerjakan 14 ensiklik, 15 anjuran apostolic dan 11 konstitusi apostolic dan 45 surat pastoral. Paus juga telah menulis 5 buku: Menembus ambang pintu pengharapan (1994), Karunia dan Misteri, sebagai kenangan pesta emas imamatnya (1996), Kumpulan meditasi puitis (2003), Bangkit dan Berjalanlah (2004), dan Kenangan dan Identitas (2005).
Paus telah memimpin 131 upacara beatifikasi (1.282 Beata dikukuhkan) dan 43 upacara kanonisasi (456 Santa dan Santo). Ia telah menyelengarakan delapan konsistori di mana ia melantik 201 orang kardinal. Ia juga telah mengadakan enam rapat umum Kolegia Kardinal.
Dari tahun 1978 sampai 2001, Bapa Suci telah memimpin lima belas Sinode Uskup Agung: enam sinode biasa (1980, 1983, 1987, 1990, 1994, 2001), satu sinode luar biasa (1985), dan delapan sinode istimewa (1980, 1991, 1994, 1995, 1997, 1998, 1998, dan 1999).
Dalam The Splendor dari Kebaran (Veritas Splendor) ia menekankan ketergantungan manusia pada Allah dan hukumny-Nya (Tanpa Sang Pencipta, makhluk menghilang) dan “Kebebasan Ketergantungan pada Kebenaran”. Ia memperingatkan bahwa manusia “memberi dirinya ke relativisme dan skeptisisme, pergi mencari kebebasan yang ilusi terpisah dari kebenaran itu sendiri”.
Dalam Fides et Ratio ( Hubungan antara Iman dan Nalar), beliau mempromosikan minat baru dalam filsafat dan pengejaran yang otonom untuk Kebenaran dalam masalah-masalah teologis. Ia menggambarkan hubungan saling mendukung antara iman dan akal, dan menekankan mengapa penting bahwa para teolog harus focus pada hubungan itu. Youhanes Paulus II juga menulis panjang lebar tentang bekeja dan dotrin sosial Gereja, yang dibahas dalam tiga ensiklik. Melalui ensiklik dan banyak Surat Apostolik dan nasihat, Yohanes Paulus II juga berbicara tentang martabat perempuan dan pentingnya keluarga untuk masa depan umat manusia.
Ensiklik Paus Yohanes Paulus II:
  • 1979: Redemptor Hominis
  • 1980: Dives in Misericordia
  • 1981: Laborem Exercens
  • 1985: Slavorum Apostoli (Epistola Encyclia)
  • 1986: Dominum et Vivificantem
  • 1987: Redemptoris Mater
  • 1987: Sollicitido Rei Socialis
  • 1990: Redemptoris Missio
  • 1991: Centesimus Annus
  • 1993: Veritatis Splendor
  • 1995: Evangelium Vitae
  • 1995: Ut Unum Sint
  • 1998: Fides et Ratio
  • 2003: Ecclesia de Eucharista

Sang Burung Kelana

Sama halnya dengan burung kelana, Paus Yohanes Paulus II, selalu berkelana ke seluruh dunia. Beliau sangat suka mengunjungi negara-negara di luar Italia, demi pelayanan pastoralnya, maupun kunjungannya sebagai seorang presiden.
Selama masa kepausannya, Paus Yohanes Paulus II telah melakukan 129 kunjungan pastoral di luar Italia, termasuk Indonesia pada Oktober 1989 dan 146 kunjungan pastoral di Italia dan sebagai uskup Roma, ia telah mengunjungi 317 dari 333 paroki di Roma.
Salah satu kunjungan beliau yang paling awal adalah kunjungan resminya ke Polandia, pada bulan Juni 1979. Ini merupakan perjalanan pertamanya. Selain itu juga, Paus Yohanes Paulus II menjadi Paus pertama yang mengunjungi Gedung Putih selama perjalanan ke USA Oktober 1979. Di sana, beliau disambut hangat oleh Presiden Jimmy Carter. Dia juga bepergian ke negara-negara yang sebelumnya belum pernah dikunjungi oleh paus-paus yang lain.
Beliau adalah paus pertama yang mengunjungi Meksiko pada bulan January 1979, sebelum awal perjalanan ke Polandia sebagai Paus. Selain Meksiko, ia juga mengunjungi Irlandia pada akhir tahun tersebut. Pada tahun 2000, ia adalah paus modern pertama yang mengunjungi Mesir, di mana ia bertemu dengan Paus Koptik, Paus Shenouda III dan Patriark Ortodoks Yunani dari Alexandria. Dia adalah Paus Katolik pertama yang mengunjungi dan berdoa di sebuah masjid Islam, di Damaskus, Suriah pada tahun 2001. Ia mengunjungi Masjid Umayyah.
Berikut merupakan daftar negara yang pernah dikunjungi oleh Paus Yohanes Paulus II:
  • Afrika Selatan (1995)
  • Repubilik Afrika Tengah (1985)
  • Albania (1993)
  • Amerika Serikat (1979, 1981, 1995, 1999)
  • Angola (1992)
  • Argentina (1982, 1987)
  • Armenia (2001)
  • Australia (1986, 1995)
  • Australia (1983, 1988, 1998)
  • Azerbaijan (2002)
  • Baham (1979)
  • Bangladesh (1986)
  • Belanda (1985)
  • Belgia (1985,1995)
  • Belize (1983)
  • Benin (1982, 1993)
  • Bolivia (1988)
  • Bosnia-Herzegovina (1997, 2003)
  • Botswana (1988)
  • Brazil (1980, 1982, 1991, 1997)
  • Britania Raya (1982)
  • Bulgaria (2002)
  • Burkina Faso (1980, 1990)
  • Burundi (1990)
  • Chad (1990)
  • Chili (1987)
  • Curacao (1990)
  • Cekoslowakia (1990)
  • Ceko (1995, 1997)
  • Denmark (1989)
  • Republik Dominika (1979, 1984, 1992)
  • Ekuador (1985)
  • El Salvador (1983, 1996)
  • Guinea Ekuatorial (1982)
  • Estonia (1993)
  • Fiji (1986)
  • Finlandia (1989)
  • Gabon (1982)
  • Gambia (1992)
  • Georgia (1999)
  • Ghana (1980)
  • Guam (1981)
  • Guatemala (1983, 1996, 2002)
  • Guinea (1992)
  • Guinea-Bissau (1990)
  • Haiti (1983)
  • Honduras (1983)
  • Hongaria (1991, 1996)
  • Islandia (1989)
  • India (1986, 1999)
  • Indonesia (1989)
  • Irlandia (1979)
  • Israel (2000)
  • Jamaika (1993)
  • Jepang (1981)
  • Jerman (1980, 1987, 1996)
  • Kamerun (1985, 1995)
  • Kanada (1984, 1987, 2002)
  • Kazakhstan (2001)
  • Kolombia (1986)
  • Kongo (1980)
  • Korea Selatan (1984, 1989)
  • Kosta Rika (1983)
  • Kroasia (1994, 1998, 2003)
  • Kuba (1998)
  • Kenya (1980, 1985, 1995)
  • Latvia (1993)
  • Libanon (1997)
  • Lesotho (1988)
  • Liechtenstein (1985)
  • Lithuania (1993)
  • Luxemburg (1985)
  • Madagaskar (1989)
  • Malawi (1989)
  • Mali (1990)
  • Malta (1990, 2001)
  • Maroko (1985)
  • Mauritius (1989)
  • Mesir (2000)
  • Meksiko (1979, 1990, 1993, 1999, 2002)
  • Mozambik (1988)
  • Nikaragua (1983, 1996)
  • Nigeria (1982, 1998)
  • Norwegia (1989)
  • Pakistan (1981)
  • Palestina (2000)
  • Panama (1983)
  • Pantai Gading (1980, 1985, 1990)
  • Papua Nugini (1984, 1995)
  • Paraguay (1988)
  • Perancis (1980, 1983, 1986, 1988, 2004)
  • Peru (1985, 1988)
  • Filipina (1981, 1995)
  • Polandia (1979, 1983, 1987, 1991, 2002)
  • Portugal (1982, 1983, 1991, 2000)
  • Puerto Riko (1984)
  • Reunion Island (1989)
  • Romania (1999)
  • Rwanda (1990)
  • Saint Lucia (1986)
  • San Marino (1982)
  • Sao Tome dan Principe (1992)
  • Selandia Baru (1986)
  • Senegal (1992)
  • Seychelles (1986)
  • Singapura (1986)
  • Slowakia (1995, 2003)
  • Slovenia (1996, 1999)
  • Kepulauan Solomon (1984)
  • Spanyol (1982, 1984, 1989, 1993, 2003)
  • Sri Lanka (1995)
  • Sudan (1993)
  • Swaziland (1988)
  • Swedia (1989)
  • Swiss (1982, 1984, 1985, 2004)
  • Suriah (2001)
  • Tanjung Verde (1990)
  • Tanzania (1990)
  • Thailand (1984)
  • Timor Timur (1989)
  • Togo (1985)
  • Trinidad dan Tobago (1985)
  • Tunisia (1996)
  • Turki (1979)
  • Uganda (1993)
  • Ukraina (2001)
  • Uruguay (1987, 1988)
  • Venezuela (1985, 1996)
  • Yordania (2000)
  • Yunani (2001)
  • Zaire (1980, 1985)
  • Zambia (1989)
  • Zimbabwe (1988)

Spritualitas Hidup: “Totus Tuus Ego Sum”
”Aku tidak tahu kapan saat itu akan datang , tapi sebagaimana dalam semua hal, juga saat itu pun aku serahkan dalam tangan Bunda Tuhan-ku”.

Paus Yohanes Paulus II
Maria merupakan teladan yang tidak bisa lepas dari perjalanan hidup Paus Yohanes Paulus II.  Ke dalam keibuan yang sama ia menyerahkan semua yang ia miliki termasuk hidup dan panggilannya.
Pada saat kematiannya, di atas peti kerandanya, tertuliskan namanya dan sebuah huru M. Huruf M ini ditujukan kepada Bunda Perawan Maria. Sejak awal masa pontifikatnya, huruf M ini telah identik dengannya, baik karena tercantum jelas dalam logo Kepausannya maupun karena terungkap banyak dalam percakapan, khotbah dan pengajaran-pengajaran serta hidupnya sendiri.
Hubungan intim dan pribadi antara Maria dan Sri Paus menjadi semakin kuat, baik di mata public maupun dalam pribadinya sendiri melalui mukjizat keselamatan jiwanya dari tindakan pembunuhan yang dialaminya lewat tembakan Mehmet Ali Agca. Para dokter memberi kesaksian bahwa peluru mematikan itu terhenti 1 mm sebelum tempat yang akan mematikan setiap orang yang terkena. Mehmet Ali Agca sendiri mengaku: “Saya merasa heran mengapa ia tidak mati; bukankah saya dilatih khusus untuk menembak jitu, untuk membunuh secara tepat?”
Sri Paus mengakui bahwa Maria sendiri yang membela kehidupannya, yang mengijinkannya hidup lagi. Mungkin Sri Paus teringat akan janjinya di depan Bunda Maria untuk membela iman, dan kini Maria sendiri yang malah membela dan menyelamatkan kehidupannya.
Sebagai Vicaris Kristus, Bapa Suci Yohanes Paulus II mempersembahkan setiap tempat yang ia kunjungi kepada Santa Perawan Maria. Pada tanggal 13 Mei 1983, beliau pergi ke Fatima guna mempersembahkan seluruh dunia kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Di kemudian hari, beliau sekali lagi mempersembahkan seluruh dunia kepada Bunda Maria, dalam persatuan dengan segenap Uskup Gereja Katolik, demi memenuhi permintaan Bunda Maria di Fatima.
Pada musim panas 1995, Paus Yohanes Paulus II memulai suatu katekese yang panjang mengenai Santa Perawan Maria dalam Angelus mingguannya, yang berpuncak pada tanggal 25 Oktober 1995, dengan penjelasannya akan peran-serta aktif Bunda Maria dalam Kurban Kalvari. Peran serta aktif Bunda Maria di Kalvari ini disebut sebagai co-redemption. Sebelumnya, pada tahun 1982 dan 1985, Paus Yohanes Paulus II telah mempergunakan istilah “co-redemptix” (Penebus Serta) dalam menyebut Santa Perawan Maria di hadapan umat beriman. Hal ini sungguh luar biasa, mengingat beliau adalah paus pertama yang melakukannya sejak Paus Benediktus XV yang baginya Bunda Maria datang ke Fatima guna menyingkapkan Hatinya Yang Tak Bernoda. Sejak masa Paus Benediktus XV, istilah ini masih dalam pembahasan oleh Tahta Suci. Penggunaan istilah ini oleh Paus Yohanes Paulus II merupakan suatu penegasan atas pandangan tradisional Gereja terhadap peran Maria dalam sejarah keselamatan.
Akan tetapi, devosi Sri Paus kepada Bunda Maria, sama sekali tidak mengesampingkan Yesus. Ia memang mengatakan bahwa doa rosario adalah doa favoritku. Tetapi juga ia menegaskan bahwa tak ada doa rosario yang terlepas dari misteri hidup Yesus Kristus. Untuk itu, ia membuat terobosan baru dengan menambahkan peristiwa cahaya dalam peristiwa-peristiwa tradisional doa rosario. Lewat peristiwa ini secara khusus ia menggaris bawahi dan mengajak umat Allah mengkontemplasikan perutusan atau misi agung Yesus Kristus di tengah dunia. Maka, orang yang berdevosi kepada Maria, dipanggil untuk lebih menghayati dan mengambil bagian dalam karya misi Kristus menjadi cahaya di tengah ambang millenium baru ini.

Gelar Agung
Sepanjang sejarah Kepausan, telah lahir tiga paus yang mendapat gelar ‘Agung’, yang ditambahkan di belakang nama mereka. Ketiga paus tersebut, yakni: Paus St. Leo I, Paus St. Gregorius I dan St. Nikolaus I. Mereka bertiga ini, mendapat gelar ‘Agung’ berkat pelayanan, wibawa, dan karhisma yang mereka berikan bagi umat-Nya.
Demikian pula dengan Paus Yohanes Paulus II. Sebagai pemimpin, pengajar iman, dan dengan dibimbing oleh Roh Kudus, ia menerbitkan Katekismus Gereja Katolik yang baru, merevisi Kitab Hukum Kanonik dan merevisi Kitab Hukum Kanonik bagi Gereja-Gereja Timur. Ia juga menuliskan 39 ajaran utama yang meliputi seluruh spectrum dotrin Gereja, moral dan spritualitas, ia menyampaikan pengajaran dan khotbah-khotbah yang tak terhitung banyaknya. Paus Yohanes Paulus II menekankan paggilan umum menuju kekudusan dan menyadarkan umat beriman akan kehidupan sacramental yang dimulai sejak saat pembaptisan. Ia, yang menerima Sakramen Pengakuan setiap minggu, mendorong kita untuk membuka diri terhadap belas kasihan Tuhan yang tak terbatas dalam Sakramen Tobat.
Dalam ensikliknya yang terakhir mengenai Ekaristi Kudus, Ecclesia de Eucharistia, ia mendorong devosi kepada Tuhan yang sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus dan persembahan kurban kudus Misa. Ia mengingatkan umat beriman bahwa melalui Ekaristi Kudus, Kristus tidak hanya sekedar bersama kita, melainkan Kristus sesungguhnya ada dan hadir di dalam diri kita.
Bapa Suci merupakan seorang pembela moral Kristiani yang gigih. Ia menekankan kekudusan hidup sejak dari saat pembuahan hingga kematian yang wajar, martabat manusia, kesakralan hidup perkawinan dan cinta kasih dalam perkawinan. Ia memiliki keberanian dan kesetiaan untuk sama sekali tidak merekayasa Sabda Allah sesuai dengan perilaku masyarakat yang mementingkan diri sendiri, melainkan menantang setiap orang agar hidup sesuai dengan Sabda Allah. Sebagai penerus St. Petrus, ia mengusahakn persatuan dalam tubuh Gereja, dengan melakukan 104 kunjungan pastoral ke luar Italia.
Sebutan ‘Yohanes Paulus II Agung’, ini diucapkan pertama kali oleh Paus penggantinya, yaitu Paus Benediktus XVI dalam sapaan pertama kalinya dari Balkon St. Petrus, pada tanggal 19 April 2005, sesaat setelah terpilih menjadi Paus.

Sapaan-Sapaan
  1. 1. Pecinta Anak-Anak
Paus Yohanes Paulus II sangat mencintai anak-anak. Ia bisa menghentikan perjalanannya dan tiba-tiba menuju orang banyak, untuk memeluk dan memberkati serta mencium anak-anak.
Perhatian paus bukan hanya sekedar ungkapan afeksi belaka atau sekedar demi mendapatkan simpatik dari publik. Perhatian paus sungguh didasari atas hormat dan cinta akan derajat dan martabat anak-anak. Paus menaruh kepercayaan besar dan penghargaan tinggi atas diri mereka dengan segala potensi dan kemampuannya. Anak-anank adalah musim semi gereja, musim semi masyarakat, dunia baru.
Paus sangat yakin akan kekuatan dan keampuhan doa anak-anak. Paus juga berterus terang pada mereka bahwa ia membutuhkan doa-doa mereka. Paus amat bangga akan semangat setia kawan anak-anak, akan kepedulian dan rasa belas kasihan mereka, khususnya bagi sesama teman mereka yang malang nasibnya.
Paus mengajak anak-anak menjadi pejuang perdamaian. Ia meminta kepada anak-anak untuk berdoa bagi perdamaian.
  1. 2. Sahabat Kaum Muda
Paus sungguh yakin bahwa kaum muda adalah harapan masa depan Gereja, yang penting bukan di masa depan nanti, tetapi sejak saat ini. Mereka adalah garam dan terang, mereka adalah bentara-bentara masa kini, mereka adalah penghadir Kabar Gembira di dunia mereka, di lingkungan mereka.
Baginya kaum muda adalah sebuah musim semi: sebuah pesemaian penuh harapan, sebuah musim semi penuh keindahan, benih-benih harapan baru. Ia menunjukkan peran, posisi strategis dan kunci mereka, ia mendukung pemenuhan panggilan kaum muda.
Ia menyapa mereka dengan himbauan penuh keterbukaan dan dengan kata-kata sederhana tetapi menyentuh identitas muda mereka: dear young people, have the sacred ambition to become holy like He is holy. Young people of every continent, do not be afraid to be saints of the new millenium. May the gospel become your most precious trasure…
Bagi sebagian orang, ia sudah tiada, tetapi serentak ia masih ada. Sehari sesudah pemakamannya, serombongan kaum muda duduk di piazza St. Ptrus, memandang jendela kosong, apatemen Sri Paus, dengan mata kosong sambil menggenggam rosario dan bernyanyi. Kematian pun takkan mampu memisahkan cinta seorang anak dan bapa terkasih.

  1. 3. Sahabat Orang Sakit
Paus menyadari bahwa adalah tugas dan perutusan Gereja untuk melayani mereka yang sakit dan menderita dengan penuh cinta dan kemurahan  hati; setiap bentuk kehidupan khususnya yang sakit dan menderita harus menjadi perhatian Gereja. Begitupun Gereja harus mewartakan bahwa menanggung sakit dan derita dalam kesatuan dengan Kristus adalah merupakan satu panggilan dan suatu persembahan yang bernilai tinggi dan berguna bagi keselamatan baik diri sendiri maupun bagi orang lain.
Pengalaman sakit dan deritanya membuat ia mampu berbicara sebagai orang yang tahu apa artinya sakit dan menderita. Maka paus berpesan: “Kalian tidak menderita secara sia-sia oleh karena setiap kesakitan telah mematangkan anda dalam kerohanianmu, menyucikan hatimu, memberimu makna dan kehidupan yang benar, memperkaya anda dengan kebaikan, kesabaran dan ketabahan, memberikan kamu perasaan yang mendalam akan perdamaian, kegembiraan yang sempurna serta pengharapan yang teguh.
Hati Kristus yang penuh kerahiman dan belas kasihan, sungguh nampak dalam pribadi Sri Paus. Ia mencintai, menghargai dan sangat dekat dengan setiap orang sakit, yang menderita, yang miskin dan tersingkirkan. Ia juga serentak menunjukkan harkat dan martabat serta peran mulia mereka, kendatipun mereka berada dalam situasi dan posisi sulit, sakit dan terbelit aneka duka derita.
  1. 4. Imam di Antara Imam
Menurut Paus Yohanes Paulus II, imam adalah seniman. Dan seni yang palindah indah, mulia dan agung itulah seni merawat jiwa-jiwa. Ia berpesan agar para imam harus menjadi seniman-seniman dalam karya pastoral. Ia juga menggaris bawahi kemendesakan dan ketaktergantian hidup selibut dalam imamat.
Beliau sangat menghargai tinggi para imam sebagai mereka yang dianugerahi sebuah rahasia. Karunia atau rahmat istimewa, yang diberikan agar digunakan sesuai tujuannya diberikan. Serentak imamat adalah sebuah misteri, rahasia yang perlu dikuakkan, dengan cinta dan pencarian yang tetap, dengan kerinduan dan harapan yang berkobar, dalam kesatuan dengan Sang Pemberi.
Para imam baginya sendiri adalah anugerah Allah yang sesuai kehendak hati Allah sendiri dalam rangka suatu succession apostolica, dalam rangka suatu estafet panjang penggembalaan, hal mana telah dimulali Yesus sendiri, sebagai gembala yang baik, dengan amor pastoralisnya, cinta kegembalaannya.

  1. 5. Pejuang Wanita
Paus Yohanes Paulus II melihat karisma wanita hanya pada keibuan mereka, dalam arti kemampuan melahirkan mereka. Sebab, pada kenyataan, keibuan fisik ini tidak mutlak menjadi ukuran kebahagiaan dan kesempurnaan hidup seorang wanita. Maka keibuan wanita melampaui kemampuan melahirkannya saja. Justru di sini, panggilan khusus sebagai ibu semakin nampak lewat panggilannya memecahkan anonimitas, melalui kepedulian, keterbukaan hati dan telinganya serta solidaritasnya.
Pembelaan paus terhadap wanita dinampakkannya juga dengan nasehat dan anjurannya agar wanita tidak jatuh dalam sikap berat sebelah dalam rangka memperjuangkan apa yang mereka sebutkanliberation mereka. Kebebesan wanita atau emansipasi wanita tidak harus diperjuangkan secara terlepas dari nilai-nilai etika dan hubungan-hubungan antar pribadi. Kebebasan wanita tidak harus menjadi suatu pemaksaan kesamaan yang murah dengan lelaki. Kebebasan tidak berarti harus persisi sama dengan yang lain. Justru perlu dicari pada kekhususannya, pada kegeniusannya, kekhasannya. Menjadi diri sendiri, bukan menjadi seperti yang lain lalu merasa memiliki emansipasi.
Dalam banyak hal Paus Yohanes Paulus II menunjukkan penghargaan dan pengakuannya terhadap wanita. Beliau menganjurkan agar di dalam pembinaan para calon imam di seminari, kakum wanita dilibatkan, bahkan kaum wanita awam. Mereka memiliki charisma dan kompetensi yang khusus dan khas yang akan memperkaya mereka. Ia menulis sebuah surat khsus kepada para imamnya tentang bagaimana menghargai dan bersikap terhadap wanita. Mereka harus diperlakukan sebagai saudarinya.

  1. 6. Man of God
Di balik kebesaran Paus Yohanes Paulus II ini tidak bisa tidak harus ditemukan kekuatannya pada hidup rohaninya yang mendalam. Orang-orang menggelarinya Man of God. Tiada hari yang dilaluinya tanpa meditasi menjelang perayaan ekaristi.
Dalam doa, meditasi dan ekaristilah kehebatan karya-karya dan tindakannya bermuara. Seperti sering diingatkan dari oratio menuju action, dari contemplatio menuju evangelizatio, dari meditationmenuju missio.
Kemendalamannya ini menjadi kekuatannya dalam mengemban misinya sekaligus hiburan dalam menghadapi tantangan, bahkan penolakan yang dialaminya. Keterpautan dan kedekatan dengan Tuhan ini dengan begitu mudah pun terjelma dalam setiap perjumpaannya dengan siapa saja, entah sesama uskup atau kerumunan peziarah.
Paus tidak melihat doa sebagai privilese kaum religius dan imam saja. Ia mempunyai suatu penghargaan yang tinggi akan doa dalam hidup kaum awam. Dalam doa orang mengalami perjumpaan dengan Allah, dengan yang Maha Kudus. Karena itu pula, dalam doa orang akan menghasilkan suatu kerinduan akan hidup baru, akan semangat baru, akan niat baru. Maka, dalam doa orang mengalami Allah, berjumpa dengan Allah sendiri, dengan hati nuraninya sendiri dan kemudian mengalami hidup baru.
Beliau bukan hanya seorang pendoa tetapi juga guru doa. Kesaksian berikut ini bisa serentak membuktikan kemendalaman hidup doanya sekaligus kesaksian bisu ini bisa menjadi pengajaran doa yang jauh lebih unggul dari sebuah traktat doa.
Rahasia doa baginya: Doa adalah mencari Tuhan tetapi juga sebuah pewahyuan oleh Tuhan kepada kita, tentang diri-Nya, juga tentang segala sesuatu, juga tentang rahasia terdalam kita. Dalam doa kita mendapatkan cinta-Nya yang menguatkan kita, mengangkat kita, yang mengundang kita untuk percaya pada-Nya. Seorang berdoa membuat Allah hadir dan nampak di dunia ini.

  1. 7. Vicar of Christ
Paus Yohanes Paulus II mengakui bahwa sumber dari panggilannya ditemukannya pada ruang atas perjamuan malam terakhir, di mana Yesus sesudah mengasihi murid-murid-Nya sehabis-habisnya, telah mengangkat mereka menjadi sahabat khusus-Nya sebagai imam. Dia mewariskan kepada mereka perintah cinta kasih dan pelayanan. Dan bahwa mereka dipanggil dan diutus pergi untuk menghasilkan buah dan agar buahnya tetap untuk selamanya.
Oleh karena itu, seluruh panggilan hidupnya pun difokuskan pada identifikasi terus menerus dengan Kristus yang menjadi sahabat bagi semua, yang menjadi gembala yang menyerahkan hidupnya.
Ia menunaikan tugasnya menjadi penjala manusia melayarkan bahtera gereja dengan kepatuhan dan cinta pada Tuhan dan pada mereka yang dipercayakan kepadanya dan kepada domba-domba yang masih berada di kandang lain.
Beliau sebelum meninggal dunia meninggalkan sebuah ensiklik hidup yang indah, yaitu setia pada Yesus sampai akhir.

Tanggapan Orang
Carlo Azeglio Ciampi, Presiden Italia
Ia telah menanamkan harapan dan kesetiaan pada kita semua. Ia telah mengukir hati nurani dengan nilai-nilai kaya makna dan penuh martabat di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Ia percaya akan kekuatan Roh Allah dan ia telah memberi kesaksian, dengan keberaniannya yang gigih dan ketenangannya di dalam menanggung derita, serta kekuatan yang memampukan kita untuk menghadapi setiap tantangan dalam bekerja untuk kebaikan di dalam situasi manapun juga. Ia akan terus hidup di dalam hati kita, di dalam kekaguman kita akan kesaksian dan keteladanannya. Ia sungguh seorang rasul perdamaian dunia. Italia, kehususnya, Roma sebagai keuskupannya, meratapi kehilangan mereka akan seorang ayah, seorang yang amat dikasihi!

Aleksander Kwasniewski, Presiden Polandia
Seorang paus yang besar – putera paling baik negeri kami, Bapa Suci, bapa yang baik bagi kita sekalian, baik yang beriman maupun yang tak beriman, dari pengikut agama yang macam ragam: itulah segalanya!

Silvio Berlusconi, Perdanan Mentri Italia
Kami sangat berterima kasih padanya untuk pekerjaannya yang tak kenal lelah kendati amat sulit, yang ia emban secara terus-menerus melawan segala bentuk totalitarianisme, kekerasan, penindasan dan dekadensi moral; semuanya dilakukan sesuai nilai-nilai Gereja Katolik, yang merupakan nilai-nilai tertinggi dari martabat manusia.

George W. Bush, Presiden Amerika Serikat
Paus Yohanes Paulus II, dari dirinya sendiri adalah sebuah inspirasi bagi jutaan orang Amerika dan bagi begitu banyak lainnya lagi di seluruh dunia. Kami akan senantisa mengenang gembala yang rendah hati, bijaksana, tidak kenal takut ini yang menjadi satu dari pemimpin-pemimpin moral yang besar dalam sejarah. Kami bersyukur kepada Tuhan yang telah mengirimkan seorang seperti beliau, seorang putera Polandia yang menjadi Uskup Roma dan serentak seorang pahlawan untuk segala abad!

Gerhard Schroder, Kanselir Jerman
Paus telah meniupkan angina integrasi yang penuh damai di Eropa dalam begitu banyak cara. Melalui usahanya dan melalui kepribadiannya yang penuh daya pikat, ia telah mengubah dunia kita.

Shimon Peres, Wakil Perdana Mentri Israel
Paus telah mencakup dalam dirinya seluruh kwalitas kemanusiaan terbaik yang ada dan serentak juga sebuah kepenuhan semangat kemanusiaan… Tindakan-tindakan dan penegasan-penegasannya telah merubah hubungan antara Gereja Katolik dan kaum Yahudi, dan telah melahirkan sebuah upaya perjuangan melawan gerakan Anti-Semitisme.

Mahmoud Abbas, Pemimpin Palestina
Kita kehilangan seorang figure pemimpin religius yang istimewa, yang membaktikan hidupnya pada pembelaan nilai-nilai luhur perdamaian dan kemerdekaan dan kesamaan hak dan martabat.

Fidel Castro, Presiden Cuba
Umat manusia akan mengabdikan suatu kenangan mengharukan akan usaha tanpa kenal dari Sri Paus Yohanes Paulus II untuk perdamaian, keadilan dan solidaritas antar segala bangsa.

Gloria Arroyo, Presiden Pilipina
Ia adalah sang piawai yang suci dari keluarga-keluarga Filipina dan dari nilai-nilai kristiani yang membuat kita megkontemplasikan apa saja yang adil, bermoral dan suci dalam hidup ini.

Vicente Fox, Presiden Mexico
Paus Yohanes Paulus II adalah seorang yang tidak ada duanya, warisan-warisannya akn hidup berabad-abad.

Jascques Chirac, Presiden Perancis
Sejarah akan mencatat dan mengenang seroang Paus yang luar biasa ini, yang kharismanya, keyakinannya dan semangat belas kasihannya telah membawa pesan Injil dengan gema yang tak terbayangkan di pentas internasional.

Levy Mwanawasa, Presiden Zambia
Bapa Suci, saya berani katakana bahwa bukanlah kehendakmu melihat kami berkabung tetapi agar kami bersyukur atas apa yang dengan rendah hati engkau realisir dalam hidupmu. Namun, bila kau melihat air mata berlinang di mata kami, itulah hanya karena kami tak dapat membendung perasaa kami ketika harus menyampaikan ‘selamat jalan bapa’.

Avul Pakir Jainulabdeen Abdul Kalam, Presiden India
Wafatnya Bapa Suci Yohanes Paulus II, diterima denga rasa sedih yang mendalam dan rasa kaget oleh rakyat India yang memandangnya sebagai seorang kampiun perdamaian dan keharmonisan dunia. Suaranya lantang menyerukan perlawanan terhadap segala bentuk intoleransi, ketidakmanusiaan dan ketidakadilan. Usaha-usahanya yang tanpa henti untuk membela martabat manusia akan selalu dikenang sebagai mercu suar pengharapan menghadapi tantangan-tantangan yang menakutkan dari dunia masa kini.

Jendral Musharraf, Presiden Pakistan
Paus telah melaksanakan karya-karya yang tak terbayangkan untuk perdamaian, ia telah membawa banyak orang yang berbeda iman menjadi lebh dekat satu sama lain.

Vaclav Klaus, Presiden Republik Ceko
Bagi saya Yohanes Paulus II adalah satu dari tokoh-tokoh tanpa tanding dari abad 20 ini. Ia adalah seorang bijaksana dan peka, yang membaktikan seluruh hidupnya pada nilai tertinggi dari hidup manusia, dari kemanusiaan, kerendahan hati, pelayanan bagi yang lemah, perdamaian, kebebasan manusia, hak dan martabat, tanggung jawab. Atas cara yang sangat kuat ia mempengaruhi tumbuhnya demokrasi di negara-negara blok komunis dan adalah jasanya bahwa negara-negara ini menghirupkan udara kebebasan.

Susilo Bambang Yudoyono, Presiden Indonesia
Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, saya mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Sri Paus Yohanes Paulus II yang wafat beberapa jam lalu. Kita mengenal sosok beliau yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi, kebebasan, berbagai aktivitas untuk membantu harmoni dan toleransi antar umat beragama termasuk kegiatan dialog antar agama.

Rowan Williams, Uskup Agung Anglikan dari Canterbury
Saya yakin bahwa dalam hari-hari ini kita tengah melihat sebuah kotbah yang hidup yang luar biasa untuk masa paska ini, tentang menghadapi kematian dengan kejujuran dan keberanian; menghadapi kematian dalam harapan penuh akan suatu relasi yang tak pernah akan terputuskan oleh kematian sekalipun. Paus Yohanes Paulsu II menunjukkan cara khasnya menghadapi kematiannya; ia mengakui kerapuhannya namun tetap penuh keberanian dan pengharapan.

Patriarch Alexy II, Pemimpin Gereja Orthodox Rusia
Paus Yohanes Paulus II, baik pribadi maupun karya dan pikiran-pikirannya telah sangat mempengaruhi dunia.

Paus Shenouda III, Gereja Koptik
Saya haturkan rasa turut belasungkawa saya yang mendalam kepada kamu sekalian sehubungan dengan wafatnya Sri Paus Yohanes Paulus II sesudah memimpin Gereja selama 26 tahun. Selama periode waktu ini, ia sungguh dijunjung tinggi dan sengat dihormati oleh umat manusia di seluruh dunia. Ia juga dipuja karena kemampuan-kemampuan pribadinya dan upaya-upayanya dalam karya ekumenis dan relasi-relasi antara gereja Katolik dan gereja-gereja lain di seluruh dunia.

Syafii Maarif, Ketua umum PP Muhammadiyah
Dunia kehilangan tokoh perdamaian. Beliau merupakan salah satu pelopor perdamaian. Ia mempunyai pengaruh luas bagi perdamaian dan ketertiban dunia.

Uskup Agung Sean O’Malley dari Boston
Pada tahun yubelium agung 2000, Sri Paus mengajak seluruh dunia untuk membuka pintu lebar-lebar bagi Kristus dan mengikutiNya bukan karena kewajiban tetapi karena cinta. Hidup Paus Yohanes Paulus II telah mencerminkan seruannya ini ketika setiap hari ia membuka dirinya untuk menjadi sebuah alat dari kebenaran yang tak terbantahkan dalam mengajarkan moral dan etika dalam menghadapi budaya masa kini.

Kardinal Edward Egan, Uskup Agung New York
Ia mewartakan Injil sampai ke sudut-sudut bumi, memaklumkan martabat mulia dari setiap manusia, hak-hak kaum miskin dan kejahatan dari perang entah waktunya baik atau tidak baik.

Konferensi Uskup Meksiko
Para uskup Meksiko merasa sehati seperasaan dengan Bunda Gereja semesta oleh wafatnya Bapa Suci. Kendatipun demikian, dengan iman kita memaklumkan dengan kegembiraan kematian yang penuh bahagianya menuju pangkuan Tuhan. Kami sangat berterima kasih untuk  harta berlimpah berkat dalam diri sang gembala, yang dari kunjungannya yang pertama di negeri kami, telah melesatkan sebuah proses dinamisme pastoral yang sungguh telah sangat menguatkan kami.

Siapa Paus Bagi Saya?
Melalui karya-karyanya yang nyata, Paus Yohanes Paulus II telah menghantar umat manusia menuju jalan kebenaran.
Paus Yohanes Paulus II, Agung, merupakan sosok sahabat yang telah mengajarkan saya bagaimana menjalani hidup ini semestinya. Dibandingkan dengan paus-paus sebelumnya, beliau merupakan sosok yang sangat unggul.
Istilah Servus Servorum Dei tidak hanya dicantumkan di belakang namanya, sebagai suatu tulisan, yang tidak bermakna. Ia telah menunjukkan bahwa ia benar-benar hamba dari hamba Tuhan. Ia selalu memperhatikan orang-orang yang kecil.
Melalui tindakannya ini, mengajarkan kepada saya, agar selalu memperhatikan orang-orang yang sedang mengalami kesusahan, dan selalu menghibur orang-orang yang sedang berada dalam kebimbangan. Melalui pelayanannya itu juga, mendorong saya untuk menjadi seorang imam. Saya mau menjadi seorang imam seperti dia.
Meskipun ia telah tiada di dunia ini, ia tetap berada di dalam hati dan pikiran saya. Tindakan-tindakan dan kata-katanya tidak akan pernah hilang dalam benak saya. Beliau senantiasa menjadi motivator bagi saya untuk dapat mencapai cita-cita saya, ialah menjadi seorang imam.
Satu hal juga yang sangat saya banggakan dari pribadinya. Itulah cinta kasih dan belaskasihannya. Contohnya saja, ketika ia ditembak oleh seorang penembak jitu. Bukannya ia marah atau menghukum si penembak jitu, melainkan ia memaafkan dan mengampuni kesalahannya itu. Itulah yang membuat saya berpikir apakah saya bisa menjadi seperti dirinya, yang rela mengampuni dosa dan kesalahan-kesalahan orang lain. Sekalipun itu adalah perbuatan yang sangat berat.

Daftar Pustaka
  • Ponomban, Terry. 2005. In Loving Memory of John Paul II. Yogyakarta: Yayasan Pustaka
  • Lesek, Yon. 2005. Jalan Menuju Tahta Suci Paus Benediktus XVI. Jakarta: Karya Kepausan Indonesia.
  • Hidup. 24 April 2005.
  • www.wikipedia.com
  • www.tokohIndonesia.com
Nihil Difficile Volenti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar